Baca Juga Berita Lainnya

Prabowo Alias Omar (2): Meneladani Hidup Ksatria dan Patriot

HM Aru Syeif Assadulah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam

Bersamaan Prabowo ditetapkan sebagai Calon Presiden (Capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) Juli 2014, nama Prabowo pun disorot habis-habisan oleh lawan politiknya. Citra negatif Prabowo bukan hari-hari ini saja dikobarkan kalangan tertentu. Bahkan sejak 1990-an awal, nama Prabowo sudah dituding minor, oleh kalangan tertentu karena Prabowo dianggap bagian dari apa yang dinamakan ABRI Hijau yang identik dengan Islam. (Baca : www.suara-islam.com/read/index/10945/Prabowo-Subianto-Alias-Omar)

Citra Prabowo yang kelabu pun makin digencarkan bersamaan terjadinya Kerusuhan Mei 1998 yang menyebabkan Presiden Soeharto pun lengser dari kekuasaannya. Prabowo difitnah sebagai pelaku yang menggerakkan Kerusuhan Mei 1998, dibumbui cerita Prabowo hendak mengudeta Presiden Habibie yang baru saja menggantikan Presiden Soeharto.

Ada cerita Prabowo hendak menyerbu Istana Negara, juga kediaman Presiden Habibie di kawasan Patra Jasa Kuningan Jakarta Selatan. Makin maraklah cap negatif bahkan makin melekat pada nama Prabowo. Citra hitam Prabowo itu di antaranya dianggap sebagai tokoh anti minoritas khususnya anti Cina. Prabowo juga dianggap punya gaya militeristis bertangan besi jauh dari perilaku demokratis. Gaya militer dan komandan Kopassus pun marak dengan berbagai cerita kekerasan dan tangan besi Prabowo yang sangat lengkap bumbu-bumbunya.

Soal gaya militer Prabowo di Kopassus sebenarnya dilakukan setiap komandan Kopassus siapa saja orangnya  yang sedang menjabat sebagai komandan. Prabowo punya gaya lain, tiap kali prajurit mendapat hukuman, tapi beberapa hari kemudian si prajurit yang terkena hukuman akan dipanggil dan diberi  uang setelah terjadi dialog yang sangat manusiawi antara komandan dan anak buahnya. Sudah punya istri? Sang prajurit pun berteriak lantang : Siap, sudah punya ! Berapa anakmu ? Siap Jendral, dua orang ! Dan Prabowo pun mengakhiri dialog dan meminta prajuritnya mendekat dan Prabowo pun mengulurkan sebuah amplop berisi uang dan diterima sang prajurit dengan wajah berseri-seri. Kebiasaan Prabowo ini rupanya sangat popular di lingkungan Kopassus, sehingga acapkali terdengar gurauan sesama prajurit Kopassus, “Kapan ya aku ditampar komandan (maksudnya oleh Prabowo), lagi butuh uang nih,” katanya.

Nama Prabowo memang menjadi legenda di lingkungan Markas Komando Kopassus Cijantung Jakarta Timur. Sejumlah barak prajurit yang sangat memadai, berbagai sarana lapangan olahraga diketahui menjadi “warisan” di era Prabowo, bahkan Koperasi internal Kopassus, Kobame (Korps Baret Merah) didorong membangun Graha Cijantung, sebuah mall yang menjadi usaha para pensiunan di lingkungan Kopassus, juga diprakarsai Prabowo. Belum lagi Alutsista yang kini dimiliki Kopassus, banyak jasa Prabowo dalam pengadaannya di era ia memimpin Kopassus. Tidak aneh jika nama Prabowo menjadi legenda.

Namun kesan garang, otoriter sudah terlanjur dilekatkan pada nama Prabowo, sehingga semua orang yang hanya mengenal nama Prabowo tanpa pernah berinteraksi pasti mengira citra negatif itu sebagai cerita yang benar-benar berlaku. Namun ketika seseorang berinteraksi sendiri dengan Prabowo dan melihat sendiri fakta yang sebaliknya, barulah orang ini berkomentar yang berbalik kepada Prabowo, kini memujinya secara berlebihan. Inilah yang terjadi pada musisi Ahmad Dhani yang kini menjadi pendukung Capres Prabowo. Dhani bercerita bertahun-tahun selama ini, ia mengaku menangkap kesan negatif terhadap Prabowo, sampai pada suatu hari Fadli Zon mengatur kunjungan Prabowo ke rumahnya. Dhani merasa kaget tatkala Prabowo hendak memasuki rumahnya, di depan pintu ia melepas sepatunya. Dhani melarang Prabowo agar sepatu tidak dilepas, tapi Prabowo tampaknya sudah terbiasa melepas sepatu di rumah orang yang dikunjungi. “Rumah saya kan bukan masjid kenapa sepatu mesti dilepas,” katanya. Ketika Prabowo memasuki rumah dengan gaya yang sangat bersahaja, Ahmad Dhani menyatakan kegagumannya. Bahkan ibunda Dhani yang ikut ngobrol disebut Dhani telah jatuh cinta kepada Prabowo. Sejak saat itu Dhani baru menyadari selama ini ia telah salah sangka dan menganggap citra negatif pada Prabowo yang beredar di Indonesia sebagai suatu kebenaran.

Yang tidak diketahui Ahmad Dhani adalah kebiasaan seorang Prabowo yang dominan sebagai keluarga Jawa. Prabowo putra Prof. Soemitro Djojohadikusumo, masa kecilnya lebih banyak diasuh kakeknya (yang biasa ia panggil eyang) Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Tentu saja pada diri Prabowo melekat gaya hidup yang sangat “Njawani”, yang terbiasa hidup penuh adab, sopan dan santun. Menjadi bagian dari gaya hidup khas Jawa seperti itu, niscaya sangat menghormati orang yang lebih tua darinya, siapapun orangnya. Prabowo sangat menghormat kepada para seniornya, termasuk masuk rumah Ahmad Dhani dengan melepas sepatu niscaya bukan sikap yang ia buat-buat, melainkan spontan dan menjadi kebiasaannya untuk menghormati orang lain. Sikap seperti ini niscaya pula berlawanan diagonal dengan citra negatif yang selama ini dihembuskan lawan-lawan politiknya, yakni sikap kasar, keras dan otoriter.

Mengalir Darah Pejuang, Patriotis dan Pemberani

Walau demikian, pada diri Prabowo yang mewarisi  darah pejuang dan patriotis dari ayahandanya serta eyangnya itu, sekaligus mengalir sikap seorang yang pemberani. Apalagi Prabowo juga ditempa di lingkungan militer, Kopassus yang mengedepankan keberanian, nyali, sekaligus disiplin yang tinggi. Ayahanda Prabowo, Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, seringkali kepada Prabowo berpesan agar Prabowo meneladani hidup ksatria, dengan ungkapan : Smiling in the face of adversity contemptuous of danger undaunted in defeat  magnanimous in victory (Seorang ksatria akan selalu tabah dan tersenyum dalam menghadapi kesulitan, tidak menjadi takabur setelah meraih kemenangan). Inilah pesan Soemitro yang selalu tertanam dalam jiwa Prabowo dan saat ini menghadapi kompetisi Capres layak dan relevan menjadi acuan paling utama. Apalagi Soemitro selalu berpesan kepada Prabowo agar ia berani menjadi diri sendiri dalam kejujuran dan kebenaran, serta berani menerima semua risikonya dengan penuh tanggungjawab.

Tercatat riwayat keluarga  besar Prabowo memang bergelimang sebagai pejuang. Dua orang paman Prabowo, Kapten Anumerta Subianto Djojohadikusumo dan Soejono Djojohadikusumo,  gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Lengkong, Tangerang, 25 Januari 1946. Dua orang paman Prabowo ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tangerang. Prabowo acapkali berziarah ke makam dua pamannya itu.

Nama belakang Prabowo yakni Subianto, diambil dari nama pamannya yang sangat dibanggakan ayahnya juga eyangnya. Prabowo sering mengenang pamannya itu karena masa kecilnya selalu diajak Eyang Margono Djojohadikusumo untuk selalu masuk ke bekas kamar paman-pamannya itu yang masih menyimpan semua peralatan militer mereka. Sang kakek selalu memompakan jiwa patriot kepada Prabowo sambil ia kisahkan kehebatan para pahlawan negeri ini mulai Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar sampai Untung Surapati. Bukan hanya dari kakeknya Prabowo terus disuntikkan jiwa pahlawan dan pemberani, tapi ayahandanya pun selalu memberi spirit sebagai pejuang.

Soemitro bukan hanya bercerita secara teori, namun ia menceritakan pengalamannya yang nyata dan menjadi sikap pahlawan dan keberaniannya yang luar biasa dan ia lakukan sendiri. Soemitro acap bercerita saat ia menjadi mahasiswa ekonomi di Belanda pada 1940-an, saat itu ia mendengar setiap hari Jerman dan Rezim Fasis pimpinan Hitler menyerbu negara-negara  di Eropa, serta menjarah segalanya. Tatkala penyebuan Jerman sampai di Italia, Soemitro tidak tahan lagi. Dia pun meminta izin ke perguruan ekonomi tinggi di Denhaag, untuk bergabung dengan pasukan Italia. Soemitro pun ikut bertempur melawan Nazi Jerman di bawah diktator Hitler. Kisah ini rupanya menjadi inspirasi buat Prabowo. Jangankan demi bangsa sendiri, ia merasa wajib berjuang, bahkan atas dasar kemanusiaan dan kebenaran serta keadilan, bertempur membela bangsa lain pun harus dilakukan. Pelajaran dari ayahandanya ini sangat melekat di relung jiwa Prabowo.

Pelajaran "Khusnul Kathimah" Soemitro

Prabowo juga punya riwayat keluarga yang berbeda-beda keyakinan agama. Adiknya Hashim Djojohadikusumo diketahui mengikuti agama istrinya, Nasrani, begitu halnya kakaknya perempuan, Bianti mengikuti agama suaminya Soedradjad Djiwandono. Ibundanya Dora Marie Sigar ketika wafat pada 22 Desember 2008, dalam usia 87 tahun, prosesi pemakamannya dilakukan secara Nasrani. Penulis hadir di rumah duka di kawasan Pondok Indah.

Saat prosesi janazah dilakukan, penulis bercerita kepada sejumlah orang di halaman belakang rumah duka. Saat itu ikut berbincang : KH.Zainuddin MZ (alm), Permadi, Hendropriyono (Ka-BIN), Moerdiono (mantan Mensesneg), Jakob Oetama (Pemimpin Umum Kompas), dll. Penulis menyampaikan surprised dan perasaan aneh melihat prosesi janazah ibunda Prabowo secara Nasrani dan baru pernah menyaksikan sekali seumur hidup. Di tempat yang sama tujuh setengah tahun sebelumnya, tepatnya pada 9 Maret 2001 ayahanda Prabowo Subianto wafat, di mana penulis juga ikut mengantarkan janazahnya. Suasana prosesi janazah Soemitro dilakukan secara Islam dan dihadiri puluhan ulama ibukota. Hal ini tentu menjadi kontras melihat  prosesi janazah istrinya.

Prof Soemitro wafat pada hari Jumat. Ketika janazah disemayamkan di rumah duka, waktu shalat Jumat pun masuk. Shalat Jumat pun secara dadakan segera diselenggarakan di samping janazah. Bertindak sebagai khatib shalat Jumat, KH. Zainuddin MZ yang menguraikan ciri-ciri, seseorang yang yang mencapai khusnul khatimah. Bertindak sebagai imam KH. Cholil Ridwan (kini ketua MUI), dan bertindak sebagai muazin, Zainal Maarif yang belakangan menjabat sebagai wakil Ketua DPR-RI.

Penulis sampaikan kejadian saat wafatnya Prof Soemitro itu kepada Zainuddin MZ, apakah hal itu membuktikan almarhum mencapai derajad khusnul khatimah? Kyai Zainuddin di depan yang hadir di belakang rumah duka itu menyatakan, ciri-cirinya memang bisa disebutkan juga kriterianya, namun seseorang mendapat khusnul-khatimah, mutlak menjadi rahasia Allah. Penulis kepada yang hadir menceritakan beberapa minggu sebelum wafat, Prof Soemitro yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Rawamangun itu, meminta agar dihadirkan orang yang selalu mengaji di dekatnya. Tatkala oleh yang membaca Alquran dihentikan bacaannya—mengira Prof Soemitro sudah tertidur—maka ditegur oleh almarhum Soemitro agar bacaan mengajinya tidak dihentikan. Terpaksalah Fadli Zon yang  diminta Prabowo mencarikan santri untuk mengaji menambah beberapa aorang lagi agar bisa mengaji bergantian. Subhanallah.

Begitulah riwayat wafatnya Soemitro ayahanda Prabowo. Mudah-mudahan memang khusnul khatimah dan menjadi monumen di hati Prabowo karena ia akan menjadi presiden dan memimpin rakyat Indonesia yang berjumlah 250 juta dengan 88% beragama Islam. Gaya hidup Soemitro harus diteladani Prabowo. Wallahu a'lam bissawab !

sumber : suara-islam






0 Response to "Prabowo Alias Omar (2): Meneladani Hidup Ksatria dan Patriot"

Post a Comment

Berita Top One 1 Hanya Membutuhkan Komentar Yang Berkulitas Tidak Spam

Baca Juga Artikel Lainnya